Cukup, Cupu dan Culun

Oleh-oleh family tea camp sariwangi, sesi family time bersama psikolog Ratih Ibrahim (2)

bersama 9 keluarga lain pemenang menulis kisah inspiratif momen 15 menit


Gak mau donk anak-anak kita jadi generasi Cukup, Cupu dan Culun, apa tuch...

Semua orangtua pasti tahu donk jika interaksi anak dengan game di gadget  atau nonton tv secara berlebihan ,walaupun isinya (katanya) edukatif, gak baik untuk pertumbuhan otak dan fisik anak.  Untuk saya sendiri, konsisten membatasi anak-anak nonton dan main game itu banyak godaannya. Saya tidak terlalu punya masalah dengan game karena anak-anak masih kecil dan  tidak memberi mereka gadget untuk main game tapi ada sedikit masalah dengan jam menonton. Walaupun dibatasi lebih seringnya saya memberi tolerasi  1 jam tambahan atau lebih. Alasannya banyak, saya lagi nanggung mengerjakan tulisan (ngejar dl aorderan tulisan atau lomba), lagi masak, lagi beres-beres, lagi asik bbm an....

Don’t Worry to be a Mommy


Judul Buku          : Don’t Worry to be a Mommy
Penulis                 : dr. Meta Hanindita
Penerbit              : Stiletto Book
Tahun                   : 2013, September
Hal                      :  171

Jadi Ibu?! Jangan  Khawatir
Resensor Rina Susanti


Menjadi ibu sudah menjadi kodrat perempuan namun tidak semua perempuan menjalaninya dengan mudah. Beberapa Ibu harus bedrest selama hamil sementara Ibu lain bisa menjalaninya dengan mudah. Begitupun saat melahirkan dan pasca melahirkan, ada yang menjalaninya dengan mudah, ada yang harus berjuang.

Bisa dibayangkan betapa kagetnya ketika saya harus menghadapi perjuangan demi perjuangan sebagai Ibu begitu Naya lahir (hal 7), tulis Meta  Hanindita seorang calon dokter spesialis anak yang membagi perjuangan dan serunya menjadi ibu  dalam buku Don’t Worry to be  Mommy (DWTM).  Perjuangan menjadi Ibu mulai dirasakan penulis saat usia kehamilannya sebelas minggu, dari mulai muntah-muntah  sampai  dideteksi mengalami kelainan jantung hormonal akibat kehamilan sehingga dokter merekomendasikan untuk bedrest total selama enam bulan. Diminggu ke 28 dokter menyarankan untuk operasi caesar.

Family Time ; Quality = Quantity


Oleh-oleh family tea camp sariwangi, sesi family time bersama psikolog Ratih Ibrahim (1)

‘Yang pentingkan kualitas bukan lama atau seringnya bertemu,’ ujaran seperti itu kerap terdengar dari para orangtua, termasuk saya yang berpendapat kualitas pertemuan atau kumpul dengan keluarga itu lebih penting daripada lamanya berkumpul. Alasannya bukan karena tidak ingin kumpul tapi (sok) sibuk. Jadi untuk bisa berpuas-puas dengan keluarga dengan sabar menunggu sabtu minggu. Itu dulu saat saya masih kerja. 

Mama Aktif dan Smart Perlu Acer E1 Slim series

“Lebih penting anak atau nulis? Berapa sich honornya, ntar gua ganti,” kata Abinya anak-anak dengan nada ketus. Skak mat! Guman saya dalam hati.

Tulisan diatas saya kutip dari postingan minggu ke 3 tantangan #30HariBlogChallenge. Duh kesannya miswa galak banget dan gak mendukung hobby istrinya ini ya padahal sebaliknya lho, sangat mendukung. Yang sedikit bikin haru, miswa pernah cuti setengah hari dari kantor hanya untuk menemani saya mencari narasumber. Dan pernah ikutaan sibuk cari dokter narsum dengan menghubungi teman-teman kantornya, karena seingat dia, beberapa teman kantor istrinya dokter.

Pilihan

Akhir Juni lalu, saya melepaskan label working mom. Memutuskan berhenti kerja bukan hal mudah namun saya tidak mau menyebutnya sulit. Yang pasti bukan hanya butuh waktu (kalau tidak salah hitung butuh 2 tahun) untuk mempertimbangkannya,  juga menyiapkan keberanian.  Berani keluar dari zona nyaman dan memulai sesuatu yang baru dari nol. Dan ini yang agak sulit.

Apakah saya siap ketika ‘resign’ sudah diputuskan? Sama sekali tidak dan rasanya saya tidak akan pernah siap jika tidak dimulai dengan nekat ‘resign’,  walaupun suami mendukung penuh.  Tidak siap tanpa penghasilan rutin milik sendiri setiap bulan. Penghasilan yang membuat saya bisa memenuhi kebutahan pribadi dan hobi yang termasuk kebutuhan sekunder, bisa sesuka hati membantu orangtua dan saudara secara finansial. Dan tentu berbeda mengatur uang sendiri, uang gabungan seperti selama ini dilakukan untuk semua kebutuhan rumah tangga, dan uang suami.

Bisa bertahan dan kuatkah saya menghabiskan semua waktu di rumah? Belajar dari pengalaman dua kali cuti hamil, saya tahu  kadang ada rasa jenuh dan bosan menghabiskan waktu di rumah.  Tak terasa sudah empat bulan saya tahan sepanjang hari bersama anak-anak. Tapi bukan tidak ditingkahi keluh kesah karena tak kuat menahan sabar. Baru benar-benar terasa kalau jadi orangtua itu harus super sabar hehehe. Keluh untuk rasa bosan yang kadang datang menyelinap. 

Untunglah selalu ada kejutan tak terduga dari anak-anak yang membuat  rasa bosan luruh dengan sendirinya.

Azka dan Khayalannya
Kejutan manis dari Khalif (1y10m) ternyata dia memiliki kebiasaan mengalungkan tangannya ke leher dan mencium dengan mesra. Khayalan dan imajinasi kaka Azka yang selalu membuat saya senyum-senyum sendiri dan tak tahan memotret.

Namun ujian  kesabaran tak kalah hebat. Mungkin bagi mama lain hal biasa, tapi bagi saya butuh kesabaran ekstra. Seperti saat menyuapi Khalif  yang bisa memakan waktu satu jam atau sebaliknya tidak mau makan. Dan saya pun segera memasak menu yang mungkin dia suka. Tak heran jika dalam satu hari saya bisa memasak banyak menu hanya demi Khalif mau makan.

Kalau ternyata tetap tidak mau makan? Hormon pemicu stres agak naik, gimana kalau sakit? Gimana kalau kurang gizi?

Dan saya baru tahu, kalau Khalif takut di tinggal. Ditinggal mandi nangis, ditinggal sholat nangis, ditinggal ke dapur nangis...intinya saya harus nempel.Awalnya membuat saya kepo sampai konsultasi khusus ke psikolog. Ternyata apa yang dialami Khalif adalah hal wajar, karena usia itu anak sedang menumbuhkan trust pada seseorang. Dan tentu saja saya merasa Azka tidak seperti itu lha wong setiap hari 10 jam dihabiskan di kantor dan perjalanan pulang pergi, jadi tidak tahu.

Ehm, jangan dikira tidak rindu hangout bersama teman-teman sepulang kerja. Untuk menyiasatinya bisanya saya mencuri waktu untuk nge mall  saat si sulung sekolah sementara Khalif di tinggal bersama art di rumah atau hadir di acara-acara kopdar komunitas online saat weekend.

Setiap keputusan ada konsekuensinya, yang pasti sampai detik ini saya tengah berusaha menyiasati rasa jenuh, bosan, dan tidak sabar, menjadi hal-hal menyenangkan untuk saya dan keluarga. Karena kebahagian saya akan tercermin pada kebahagian dan tumbuh kembang anak-anak. Yang pasti saya tidak menyesali keputusan saya :)