Liburan Seru dan Edukatif

Ketertarikan anak pada binatang, menurut psikolog  Ratih Ibrahim, karena emotional anak di usia 1-5 tahun masih di seputaran animal brain karena respon dari binatang itu pure, genuine. Dengan mendekatkan  si kecil pada binatang secara tidak langsung mengajarkannya essence of caring ke manusia. Jika anak sayang binatang dia akan respek terhadap kehidupan, manusia dan lingkungan hidup.

Pernyataan di atas menjawab keheranan saya kenapa kedua si kecil saya Azka Zahra (5y) dan Khalif (1.5 y) sangat tertarik pada hewan. Khalif Suka sekali mengejar-ngejar kucing yang kerap berkeliaran di sekitar rumah sedangkan kakak Azka selalu berkhayal kelak memiliki kuda, anak harimau, ayam, kucing, ikan dan bercita-cita menjadi dokter hewan sejak menonton tayangan Animal Planet di tv.

Keduanya sangat antusias jika diajak ke kebun bintang dan ingin menyentuh semua hewan yang dilihatnya. Namun sayang, tidak semua binatang bisa disentuh dan diajak berinteraksi secara langsung.



Tapi tak lama lagi rasa keingintahuan kedua si kecil saya akan terpuaskan, saya akan mengajak mereka ke Dancow Learn & Explore, 4D Augmented reality Experience Terbesar di Indonesia, di sana si kecil bisa berinteraksi secara langsung dengan beragam binatang, mulai dari binatang laut, serangga, binatang berbulu, burung dan binatang yang tidak mungkin dilihat si kecil di kebun binatang tapi sangat dikenalnya melalui buku atau film seperti dinosaurus, T-rex, mammoth dan juga binatang-binatang lain seperti lumba-lumba, penguin, dan bahkan harimau. Lewat Teknologi canggih augment reality, binatang-binatang tersebut bisa disentuh dan dirasakan langsung oleh si kecil. jadi interaksi dengan harimau pun aman.

Dengan melihat binatang – binatang ini secara langsung “di habitatnya”, diharapkan rasa ingin tahu Azka dan Khalif bertambah, DANCOW Learn & Explore memberikan sarana untuk belajar dan mengembangkan kemampuan kognisi anak, supaya anak-anak Indonesia bisa tumbuh menjadi ANAK LIFE-READY. Di  Dancow Learn & Explore  ada beberapa zona yang bisa dieksplorasi si kecil, diantarannya ;

o   Zona Augmented Reality: Selain mendapatkan pengetahuan seputar Dinosaurus, si Kecil juga akan dikenalkan dengan berbagai hewan yang hidup di zaman purba dan mengetahui apa saja hewan berukuran besar. Zona ini terbuka untuk si Kecil yang berusia 1-5 tahun dan si Kecil dibawah 3 tahun perlu didampingi oleh Ayah dan Bunda. Di sana si Kecil juga bisa membuat lukisan cap tangan yang hasilnya bisa dibawa pulang.

Lihat video ini yuk



Mau kan liat si kecilnya main asyik dengan penguin seperti ini juga?

o   Zona Binatang Laut: Di Zona ini si Kecil bisa mempelajari mengetahui hewan yang tinggal di air. Si Kecil juga akan diajak untuk berkreasi untuk mengembangkan kebebasan bereksplorasi, berkreasi, serta melatih koordinasi motorik halus dan pemahaman si Kecil tentang “warna”, dan “bentuk”

o   Zona Burung: Si kecil bisa melihat aneka jenis Burung dan mengenal macam - macam suaranya, tidak ketinggalan, si Kecil juga bisa berfoto dengan burung. Selain itu, si Kecil juga akan diajak mempelajari berbagai macam warna, mengasah kreativitas bersama Ayah dan Bunda, serta menirukan suara burung.

o   Zona Binatang Berbulu: Di sini, si Kecil akan dikenalkan berbagai jenis hewan berbulu, jenis-jenis makanan hewan, mengenal tekstur kulit hewan, dan memberi makan kelinci dan marmut. Si Kecil juga bisa berkreasi bersama Ayah dan Bunda membuat kartu dengan menempel bulu

·         Zona Serangga: Si Kecil bisa mengenal macam - macam serangga dan tau mengenai habitat hidup serangga. Selain itu, si Kecil juga bisa mengetahui berbagai macam suara serangga, dari mulai suara jangkrik sampai dengung sayap nyamuk.


Selain itu ada juga Zona konsultasi Psikologi dan Nutrisi Anak untuk Bunda, penampilan special dari Super Seven dan Kids Choir dan Doorprize jutaan rupiah juga lho! Tupperware, iPad 2, Samsung Galaxy SIII, dan Voucher Belanja

Seru dan edukatif kan Bun.  Info lengkap klik DANCOW Parenting Center (FB) . dan ikuti terus Twitter @DancowCenter

Sampai berjumpa di sana.




Yuk, Dampingi si Kecil Bereksplorasi


Banyak orang bilang Azka Zahra (5 thn) putri kami tomboy, karena suka mencoba memanjat pohon, naik sepeda sukanya ngebut, berani mengungkapkan keinginannya,  ekspresinya lepas, percaya diri, selalu ingin menonjol, dan berani. Padahal menurut saya Azka melakukan hal yang seharusnya dilakukan semua anak, baik laki-laki atau perempuan.  Cerminan anak yang selalu ingin tahu dan bebas.

Playing is the beginning knowledge adalah filosofi yang saya terapkan pada si kecil. yap, bermain adalah cara belajar paling menyenangkan untuk anak. Membiarkan anak  bereksplorasi dan mengenal alam bebas adalah cara memberinya kesempatan bermain sekaligus belajar terlebih diusia  golden age nya (1 – 5 tahun). Seperti yang kami lakukan pada si kecil kami. Mendampinginya saat ingin mencoba memanjat atau main hujan-hujanan.  


Atau mengajak mereka ke tempat wisata edukatif seperti kebun binatang. Salah satu kegiatan favorit si kecil adalah   memberi makan rusa-rusa yang ada di Istana Presiden Bogor.



Saya memang tidak membatasi ruang gerak Azka dan Khalif saat bermain dengan syarat selalu di dampingi karena menurut buku-buku parenting yang saya baca saat anak bereksplorasi di alam bebas ia belajar memahami sesuatu dan dalam waktu bersamaan kecerdasan majemuknya terasah. Anak akan mengerahkan seluruh kemampuan fisiknya (berjalan, berlari, melompat, mengjangkau atau mencoba memanjat) untuk memuaskan keingintahuan terhadap hal baru yang dilihatnya. Dengan panca inderanya anak akan mencerna beragam fenomena alam (terik matahari, angin, proses pergantian hari dsb)  dan interaksinya dengan mahluk hidup lain, tumbuhan dan hewan, akan membuat anak belajar peduli.


Ketika rasa ingin tahunya terpuaskan dan anak merasa jadi serba tahu, rasa percaya dirinya akan bertambah.


Protektif tapi Proporsional
Walaupun tidak semua, beberapa orangtua melarang anaknya bermain di alam bebas dengan alasan keamanan. Khawatir jatuh, kotor, kena kuman dst. Ketakutan yang juga saya alami namun saya tahu jika terus menerus di larang ini itu rasa ingin tahu dan imajinasi si kecil akan tumpul. Sebab itu saya mendukung eksplorasi si kecil  dengan cara mengawasi dan mendampingi  saat ia bermain di alam bebas.


Seandainya Bunda mengajak anak ke kebun binatang lalu dia ingin mendekati binatang yang baru dilihatnya, apa yang Bunda lakukan? Kita coba lihat video berikut ini yuk....

Dukung Anak Bereksplorasi
Yang dibutuhkan anak kelak untuk mencapai kesuksesan dalam hidup bukan hanya kecerdasan kognitif yaitu kecerdasan yang bisa diukur dengan angka seperti membaca atau berhitung.  Kecerdasan yang tidak kalah penting adalah kecerdasan  kognisi yaitu kecerdasan yang tidak bisa diukur dengan angka diantaranya rasa kepercayaan diri, mudah bergaul, kreatif dan berjiwa pemimpin. Kecerdasan yang kelak menentukan kesiapan anak menghadapi masa depan (anak life ready) han harus dimiliki dan diasah sejak dini. dan kecerdasan kognisi ini di dapat anak ketika bereksplorasi di alam bebas.

Mengutif psikolog Ratih Ibrahim, anak life ready adalah anak yang memiliki kompetensi individual yang unggul seperti memiliki pertumbuhan fisik optimal, perkembangan kognitif yang signifikan serta perkembangan kecerdasan emosi dan interpersonal. Dan setiap orantua bisa mengarahkan anak untuk menjadi anak life ready, dengan memberikan nutrisi serat gizi yang baik dan pola asuh yang bagus.

Let’s Learn dan Explore
Berangkat dari kepedulian bahwa  anak butuh melakukan eksplorasi agar menjadi anak life ready. Dancow membuat sebuah event bertajuk DANCOW Learn & Explore, 4D Augmented Reality Experience Terbesar di Indonesia, yang akan diselenggarakan tepat pada saat liburan sekolah yaitu tanggal 6-7 Juli 2013 di Mall Taman Anggrek Jakarta, pukul 10.00-12.00 WIB.  


Bagaimana cara Bunda dan si kecil bisa ikut acara ini? 



Info lebih lanjut bisa dilihat  di DANCOW Parenting Center (FB) dan Twitter @DancowCenter



Musik dan Perjalanan Usia Saya


Saya bukan termasuk yang fanatik dengan salah satu jenis musik. Saat masih abg suka musik pop. Waktu itu jamannya Ruth Sahanaya baru masuk blantika musik Indonesia. Generasi 90 an.  


  
Seiring usia, saya jadi suka hampir semua jenis musik. Saya jatuh cinta pada musik keroncong saat kuliah (kuliah angkatan 98 – udah cukup tua xixi) ketika secara tidak sengaja saya menonton pertunjukan musik keroncong yang dimainkan sejumlah mahasiswa dari salah satu ukm di universitas tempat saya kuliah, unpad. Musik keroncong itu klasik banget dan ternyata lagu-lagu pop asik juga di lantunkan dengan iringan musik keroncong.  Dan sejak itu pula mindset keroncong yang identik dengan  bahasa jawa, kuno dan tua (penggemar dan pemain musiknya tua-tua) hilang dari benak saya dan  mulai ketagihan menonton dan mendengarkan  musik keroncongan secara live. 

Sebenarnya keroncong  bukan jenis musik yang asing untuk telinga saya karena setiap liburan di rumah si mbah (kakek dan nenek dari pihak ibu) kerap mendengarkan suara Waljinah si Walang Keke. Musik yang menurut saya waktu itu, nggak banget, kuno dan tua.

diva keroncong

Saya pun pecinta musik pop sunda karena sejak kecil kerap mendengarkan lagu-lagu ciptaan mang Koko yang di nyanyikan Nining Meida dari rumah kakek yang tinggal bersebelahan. Dan jangan ngaku orang sunda ya kalau tidak kenal lagu-lagu ciptaan  mang Koko (almarh)  yang dilantunkan Nining Meida. Musik pop sunda itu abadi lho, coba saja dengarkan di setiap pernikahan orang sunda dari jaman saya  kecil sampai sekarang lagunya itu – itu saja, salah satunya yang berjudul Kalangkang.


diva pop sunda

Penyanyi  musik pop sunda yang terkenal baru-baru ini adalah Bungsu bandung dengan lagu populernya Mobil Butut dan Ulah Ceurik.

Saya memang tidak lahir di jamannya di The Beatles tapi saya hampir hapal semua lagunya karena saat kecil bapak saya sering menyetelnya dengan koleksi kaset yang cukup lengkap. Gara-gara sering mendengarkan lagu The Beatles berbersit berkeinginan belajar main gitar dan bapak saya dengan senang hati mengajarkan.


Saya juga suka musik dangdut lho tapi bukan musik dangdut dengan  beat yang membuat jejingkrakan dan syair yang alay nan lebay. Saya suka dangdut melayu. lagu-lagunya Iyet Bustomi atau beberapa lagu yang dilantunkan Cici Faramida. Bapak saya yang menularkan kesukaan saya pada musik ini. Selera musik bapak berubah seiring usia, saya tidak ingat tepatnya yang pasti tiba-tiba bapak berburu kaset Rhoma Irama dan setiap memetik gitar pasti lagu Rhoma Irama. Sampai-sampai bapak dan beberapa kawannya membuat grup dangdut yang manggung di tiap acara tujuh belasan atau hajatan. Paling malu kalau teman sekolah tahu kalau bapak saya pemusik dangdut kampung.  Bagaimanapun dangdut waktu itu masih identik dengan lagu kampungan, nggak banget lah untuk anak seusia saya  (sma) dan memang saat itu saya belum suka musik dangdut. Sebagai pendengar setiap radio paling ngetop sebandung sudah barang tentu selera musik saya saat itu gak jauh dari musik pop dan alternatif.

Berkenalan dengan  musik klasik ketika teman mengajak saya nonton piano solo di CCF (pusat kebudayaan Prancis) di Bandung, di sini memang secara rutin diadakan ‘konser’ musik klasik dengan harga tiket sangat mumer. Sejak itu saya tidak pernah melewatkan  berburu konser murah musik klasik di CCF atau nonton paduan suara.

Setelah menikah dan pindah ke Bogor, saya tidak pernah lagi hunting musik live selain tidak tahu tempatnya juga karena sok sibuk dengan urusan pekerjaan dan keluarga. Ehm, masa iya harus bela-belain ke Jakarta buat menikmati keroncongan live dan meninggalkan dua balita di rumah :). Jadi harus puas dengan mendengarkan melalui hp atau cd. Walaupun rasanya beda banget mendengarkan musik – jenis musik apapun – antara live dan rekaman. Kalau live itu seperti ada magisnya. Menghanyutkan!

Rumah kami kini lebih sering dihangatkan dengan lantunan lagu anak-anak kesukaan Azka Zahra (5 thn) dan Khalif (1.5 thn) apalagi kalau bukan lagu-lagu ciptaan bu Kasur dan AT Mahmud. Biasanya saya mendengarkan musik kesukaan saat dalam perjalanan pulang pergi kerja (melalui earphone) atau sambil menikmati me time – membaca buku atau ngeblog – saat anak-anak tidur. Beberapa lagu khususnya musik pop di dapat dengan cara mendownload (lebih tepatnya suami yang mendowload heheh saya tinggal copas)  karena saya menggunakan speedy sempat langganan MelOn beberapa bulan. dan sekarang baru tahu jika langitmusik adalah buah kerja sama MelOn dan telkomsel.

Saya dan suami hampir sama dalam hal selera musik, kecuali keroncong dan pop sunda. Kami memiliki lagu favorit yang sama, yaitu lagunya Armada yang berjudul Pemilik Hatiku,Thousand Years-nya   Christina Perri dan 11  Januarinya Gigi. Romantis bukan :)

Tapi suami saya baru ngeh kalau saya suka musik alternatif. Karena percakapan kami beberapa waktu lalu.

“Nonton Javarockinland asik kali ya, Bi.”
“Emang mama suka?”
“Lha itu yang main yang band-bandnya kita masih muda. Collective soul, Sixpence None the Richer.”
“Kirain mama gak suka. Dari kemarin udah kepikiran pengen nonton. Beberapa teman kantor pada nonton.”
“Ya, udah kita cari tiketnya,” Ajak saya bersemangat karena  kedua anak saya tengah liburan di rumah neneknya di Bandung.
“Udah lewat kali, Ma.”
 Huah! Hikshiks...

pengen nonton ini di Javarockinland

Musik yang asik itu tentu beda untuk setiap orang. Untuk saya sendiri musik asik itu tidak sekedar enak di telinga tapi lirik dan filosofinya  sarat pesan. Musik asik itu tidak deskriminatif, semua orang berhak menikmatinya. Gak ada istilah musik kampungan, musik berkebudayaan tinggi dsb. Selama liriknya bagus dan bermuatan positif .


tulisan ini diikut sertakan dalam kontes Blog Musik yang Asik


Mengawali Kebiasaan Makan Makanan Sehat


Saya tidak pernah kebingungan dengan selera makan Azka Zahra (5 thn), segala jenis ikan dan seafood suka, apalagi ayam, bukan hanya ayam goreng lho juga jika dimasak dengan bumbu opor atau gulai. Memang sich kalau soal sayuran Azka pilih-pilih, favoritnya sayur bayam dibening dan sup wortel. Jadi saya menyiasatinya dengan penambahkan pada perkedel atau chicken nugget buatan sendiri. Azka juga suka beragam  buah-buahan, dan  paling lahap makan pisang, jeruk dan apel. Seleran makan  adiknya Khalifah Ahsan yang kini menginjak usia  1.5 tahun tidak jauh berbeda. keduanya bukan tipe food instant mainded.

lahap makannya :)


Saya percaya,  selera itu terbentuk karena  saya mengenalkan mereka terhadap beragam rasa alami dari sayuran, buah dan ikan sejak masa mpasi dengan selalu memberikan mpasi rumahan.  Yang secara tidak langsung melatih kepekaan lidah mereka terhadap makanan alami. Pola makan sehat itu – dengan meminimalkan  makana instan – saya lakukan hingga kini. Beberapa waktu lalu saya pernah posting mengenai mpasi rumahan yang saya lakukan pada si kecil di sini

Blender adalah salah satu perlengkapan dapur yang mendukung  saya menyiapkan makanan sehat untuk keluarga. Usia blender Miyako yang saya miliki ini hanya selisih beberapa bulan dari putri sulung saya Azka Zahra yang bulan mei lalu tepat berusia lima tahun dan  masih berfungsi dengan baik.

blender Miyako untuk membuat juice strawberi kesukaan Azka

Awalnya pilihan menggunakan peroduk  Miyako karena harganya yang ekonomis. Saat itu sekitar enam tahun lalu, satu tahun setelah menikah kami memutuskan mandiri dengan mengontrak sebuah rumah mungil di kota hujan Bogor. Otomatis kami pun mulai harus memiliki peralatan rumah tangga sendiri, terutama perabot dapur. Dari list peralatan rumah tangga yang kami buat, ternyata banyak sekali yang harus kami beli. Dari piring sampai tabung gas. Berhubung keuangan terbatas, kami mulai menentukan prioritas mana yang harus dibeli saat itu mana yang bisa ditunda dan dibeli saat dibutuhkan.  Magiccom Miyako  termasuk dalam daftar prioritas dengan alasan kepraktisan. Memasak nasi bisa disambi mandi pagi dan saat pulang kerja kami bisa makan dengan nasi hangat tanpa perlu repot memanaskan.  


  
Sedangkan blender masuk daftar waiting list


Tahun berikutnya si sulung kami lahir dan menginjak usia dia lima bulan, saya merasa wajib membeli blender sebagai persiapan memberi mpasi.  Saya memang berniat memberi si kecil makanan alami agar si kecil kenal dan terbiasa dengan beragam rasa dari buah dan sayuran . 


mpasi Khalif

Pilihan saya jatuh pada blender Miyako, karena teringat merk blender itu pula yang digunakan ibu saya. Soal harga pas pula dengan kantong kami. Dengan makin bertambahnya pengeluaran karena kehadiran si kecil dan cicilan rumah, saya memang dituntut menjadi smart shopper. Membeli barang berkualitas dengan harga sesuai kantong. Dengan jaminan 

Beragam mpasi si kecil saya buat dengan bantuan blender Miyako termasuk memblender cincang daging ayam untuk dibuat chicken nugget keju. 

chicken nugget 'made in' mama

Dan sudah barang tentu blender ini juga saya gunakan untuk memblender bumbu rendang dan dendeng basah.  
Saya tidak hobi memasak tapi keluarga besar suami yang berdarah padang menyarankan agar saya bisa mewarisi resep keluarga apalagi kalau bukan rendang dan dendeng basah. Setelah beberapa kali sesi ‘training’ saya mencoba mempratikkannya di rumah selain ingin ‘sedikit’ memamerkan pada ibu kalau saya bisa lho memasak rendang padang.

Blender mau tidak mau ada jadi hal penting di dapur. Karena walaupun di pasar sudah tersedia beragam bumbu jadi, ibu mertua menyarankan agar  menggunakan bumbu yang diblender sendiri  selain agar aroma dan rasanya alami juga kehigienisannya terjamin.

Mengawali kebiasaan makan makanan sehat dengan blender Miyako, harga ekonomis, manfaat dan fungsinya dinamis.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog Kisah Bersama Miyako